Cireboner - Ciremai Weekend Adventures - Ojek Wisata Cirebon - Ojek Wisata Kuningan - Souvenir Khas Cirebon - Souvenir Asli Cirebon - Ngebolang ke Cirebon
Have question?
News
  • sewa tenda cirebon

    Untuk mengakomodasi kebutuhan para outdoor bolanger yang pengen praktis dan ekonomis dalam penyediaan alat-alat camping, maka cireboner.com bekerjasama dengan Cirebon Power Rider, memberikan solusi dengan menyewakan alat kelengkapan camping download pricelist

  • Korban pertama Green Canyon Majalengka

    Adapun identitas dalam buku masuk pengunjung di pos kedua objek wisata Gua Lalay, ke-13 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu antara lain, Amar 19, Ciputat, Tanggerang Se latan; Faujan, 22, (Pamulang); Ahmed, 20, (Pamulang); Kelaudia, 21, (Ciputat); Regina, 19, (Tanjung Priok); Fitri, 19, (Ciputat); Adjim, 21, (Pondok Cabe); Syla, 19, (Curug, Bogor); Ewa 19, (Bintaro); Ratri, 18, (Gunung Putri, Bogor); Ulfa, 18, (Ciputat); Vidya, 18, (Pamulang), dan Dodo, 19, Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

  • Stasiun Kejaksan Cirebon

Visits:
Today: 76All time: 111269

Trail Wannabe ...

Bolanger Notes » Trail Wannabe ...

  • Jalur offroad Ciremai
    Jalur offroad Ciremai

Sebenarnya jalur tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 2,5 jam karena pada 2 minggu sebelumnya aku sudah membuktikannya saat ada acara hiking bareng temen2 kantor, dan dari event itulah ide untuk melintasinya dengan motor muncul, sehingga itung-itung sekalian survey.

Kenapa aku pengen kembali kesono?, yup karena disana ada satu view point yang luar biasa yang pastinya tidak semua orang bisa berkesempatan menikmatinya.


Dan pada minggu 02122012 kemaren motorku ternyata tidak bisa lebih cepat dari pejalan kaki, karena tercatat dari berangkat jam 12:30-an kami bisa sampai kembali ke aspal sekitar jam 15:20an yang artinya ada selisih 40 menit-an, kenapa bisa pake motor lebih lama ketimbang jalan kaki? That’s questions of life … (pinjemgayahitamputih)

Beberapa hari sebelumnya usaha ngomporin anak-anak motor di lingkup terdekat ternyata gagal, karena mereka tahu kondisi jalur tersebut yang menurut mereka tidak untuk motor, OK Fine! aku mencoba cari partner dari komunitas laen, dan dari sekian bro, ternyata hanya bro Milozovic saja yang bersedia, yang lain pada sibuk guntingin duit…..

Sesampainya di rumah Milo jam 11:30an, hujan menyambut cukup ramah, sehingga beberapa menit keberangkatan harus tertunda,

“cuman ke jalur gunung itu kan? “

“iya…”

“ kalo gitu gw gak usah pake helm yah? “

“hah?!!! “ :tepokjidat

Lalu terlihat doi siapin sandal ke teras rumahna… what?!!!! Sandal????? :jedotinkepalaketembok

Namun setelah hujan reda niatan itu batal, karena si Milo ternyata tampil dengan gear lengkap, mixing ala motorist dan mountaineer. wew!

“bener neh gak bawa motor lu mil? “

“he he he…” (kecuuuut banget milo nyengirnya bo’ )

Selanjutnya Milo ngebonceng aku menuju desa terakhir di lereng Ciremai yang sekaligus gerbang jalur yang akan kita lalui, cuaca masih redup dengan tetesan sisa hujan. Oh iya kami sempet nambah angin roda belakang untuk dikondisikan dengan jalur yang akan kami lewati nantinya.

Beberapa ratus meter kami masih becanda-becanda seru dengan jalur kombinasi antara kerikil dan tanah, plus aliran air yang menggenangi, slip kanan kiri dan benturan-benturan kecil pada kerikil bongsor menciptakan keseruan tersendiri, terlebih ketika sesekali harus berhenti untuk benerin arah motor yg belok terperosok.

Sepanjang jalur yang terlihat hanya segar dan hijau karena memang musim hujan telah mengembalikan daun dan kehidupan flora di hamparan lereng Ciremai, dan alasan kesejukan serta basahnya suasana seperti itulah yang menjadikan kami lupa untuk membawa air minum, karena dugaan awal kami tidak begitu membutuhkan minum jika dihitung dari jarak tempuh dan waktu serta kondisi cuaca, namun ternyata itu sebuah kesalahan fatal dan pelajaran berharga.

Perjalanan naik menuju ketinggian tidak begitu berat, sehingga dengan semangat yang berlebih kami mencapai post puncak dengan bugar dan menikmati pemandangan, disitu aku kehausan dan terpaksa minum air hujan yang tertampung di belahan bamboo, jiaaah ala-ala survivor alam liar gitu deh, disinilah penyesalan tidak mempersiapkan air minum mulai berasa.

Sejenak istirahat, ambil beberapa photo (termasuk photo papan peraturan yang isinya dilarang memasuki area tanpa ijin :ups!) dan beberapa take video, kami bersiap memulai jalur adventure sesungguhnya, dimana jalur akan terlihat hanya jika kita menyeruak diantara lebatnya semak dan belukar, dilengkapi dengan sebuah cekungan yang bersudut ajiiiiib dan dihiasi oleh jurang di sisi kanan dan kiri dengan menyisakan tak lebih dari 1 meter lebar jalurnya.

Jalur semak belukar sudah terlewati dengan beberapa take video disana, dan ketika menjelang cekungan tersebut, dengan pede aku silahkan Milo untuk terlebih dahulu ke seberang dan mengambil video dari ketinggiannya, pikirku pasti akan seru aksi menuruni cekungan dan menaiki tepian satunya, tetapi ternyata nyali aja tidak cukup dan terpaksa harus aku lambaikan tangan kearah kamera, menandakan bahwa aku menyerah dan meminta bantuan untuk turun membantu.

Proses menuruni cekungan sungainya berhasil, meski benturan keras harus beberapa kali dialami motor plat AG aku pada batu dan potongan kayu yang berada di jalur tersebut, (saat itu aku pasrah jika terjadi pecah sana sini di cover motor) dan ketika berada di tengah sungai baru nyali aku ciut dan pikiran iseng terbuang, yang ada hanyalah ketegangan sangat dan serius!, secara aku melihat sisi kanan dan kiri terdapat jurang lumayan dalam yang tertutupi semak, dan seandainya jatuh, maka dua orang saja tidak akan pernah cukup mengevakuasi motor dari dalamnya.

Aku mencoba menaiki celah sempit yang di apit tonjolan batu-batu di sisi naik dari cekungan itu, tetapi hitungan ODA (Observe, Decide, Act) memaksaku untuk menghentikannya.

Celah sempit itu meski panjangnya tak lebih dari 7 meter, tetapi mempunyai kemiringan yang akan memungkinkan roda depan terangkat dan motor terbalik, jika hal itu terjadi maka dipastikan motor akan liar dan jatuh ke jurangnya, belum lagi jika benturan roda depan tidak smoot pada jalurnya, belum lagi juga jika posisi footstep atau bahkan mesin terbentur dan terjepit pada tonjolan batunya. Karena memang celah itu terlalu dalam dan sempit untuk tinggi kaki-kaki motorku.

Kalaupun berkhayal pake trail, mungkin akan berhasil untuk mengatasi cengekeraman ban roda pada jalur, dan menghindari benturan pada tonjolan bebatuannya, bukan pada kemiringannya dan spontanitas akselerasi motor, oleh karenanya pilihannya adalah balik yang berarti tidak klimaks, atau terus yang berarti turun dan mendorong motor hingga mencapai tepian atas cekungan tersebut.

Lebih dari 45 menit kami berdua berjuang mendorong dan menarik motor keluar dari cekungan tersebut, bau bensin tumpah menimbulkan kekhawatiran adanya selang yang lepas ataupun pecahnya mesin, kekhawatiran akan cover yang hancur, dan footstep bengkok, ataupun ada retakan pada mesin karena benturan batu dan cara kami menaikkan motor yang semampunya, sudah tidak aku hiraukan, karena yang ada di fikiran adalah motor aku bisa keluar dari cekungan itu.

“ok tahan, kita hitung bareng, satu… dua… tigaaaa..”

“aaarrrrgghhhh…!!!!”

berulang kami melakukan itu, tenaga kami terkuras habis, dehidrasi dan helm semakin membuat nafas kami terhalangi, dengan tetap menahan beban motor agar tidak melorot kebawah, kami berhenti untuk sekedar mengembalikan tenaga dan menormalkan degup jantung, mesin tidak lagi bisa dinyalakan karena over heat?, dan tak mungkin kami mengharapkan adanya bantuan.

Akhirnya dengan usaha yang liar, motorku bisa terbebas juga dari cekungan itu, meski didepan masih menyisakan beberapa celah berbatu lagi tetapi tidak separah sebelumnya, sehingga ketika sampai di shelter yang lumayan lebar kamipun terkapar, bahkan dokumentasi video pun sampai terlupakan.

Dari dekat persimpangan posisi kami istirahat tersebut, terdapat view point yang luar biasa indah dan megah, kita bisa melihat jauuuuh ke hamparan luas kabupaten kuningan dan Cirebon dibawah sana, garis pantai yang seperti kapas, dan birunya laut menjadi value yang bisa melunasi capeknya pencapaian tempat tersebut.

Setelah dirasa tenaga sudah kembali dan nafas tertata lagi, aku percayakan Milo untuk nge-joki di jalur turun, dimulai dengan semak belukar dengan sempitnya lintasan beberapa meter, kemudian dihadapkan pada sebuah turunan ajiiib yang berbatu, licin, dan membuat nyali si Milo menciut juga, sehingga pilihannya adalah turun dan menuntun motornya menuruni jalur, terlihat begitu romantis bak seorang cowok yang mendekap ceweknya berjalan berdampingan menuju sebuah altar dansa…. :halah!

Jalur selanjutnya sudah agak datar dengan semak yang tidak begitu lebat, namun tantangannya adalah sangat licin, sehingga di jalur itupun si Milo memilih aman meluncur perlahan tanpa menyalakan mesin motor, mungkin dengan pertimbangan agar tidak ada respon spontan yang mengakibatkan motor semakin tidak terkontrol saat terjadi slip tiba-tiba jika dengan gigi aktif.

30 menit kemudian kami sampai di pos kikuwu, berupa sebuah gubug yang tak jauh darinya sebuah makam keramat dengan aura mistis yg kental, di pos tersebut kami beristirahat kembali untuk beberapa take photo, dan dari situ pula joki aku ambil alih dan si Milo menjadi kameramennya dengan tetap berjalan kaki kaerna sangat beresiko jika memaksakan untuk berboncengan.

Jalur bersih dan licin menjadi menu selanjutnya, dibawah rimbunnya hutan pinus, kami berasa santai melintasinya, meski sesekali harus kembali tegang dengan jalur yang curam dan berbatu, tapi itu semua bisa kami lalui dengan aman dan beriring gelak tawa.

Setelah mencapai bumi perkemahan pada 20 menit selanjutnya, ada sebuah turunan lumayan ajiib yang lebih bisa disebut sebagai undakan panjang, karena turunan itu tidak rata ataupun liar seperti jalur sebelumnya, namun terdapat banyak undakan kecil yang berbatu dengan kemiringan yang curam, sehingga pasti, meski roda tidak berputar, motor akan selalu melorot kebawah, disinilah sekil dalam hal penyeimbangan rem depan dan belakang di uji.

Kali ini tetap harus aku naiki motornya bukan di tuntun seperti Milo sebelumnya, secara meski ada apa2 juga itu motor aku, bukan motor orang seperti yang membebani Milo saat di jalur sebelumnya , dan aku lewatilah turunan aneh itu dengan keseriusan sangat, goyang kanan, goyang kiri, melorot pelan dan sesekali eh selalu ding - harus berpijak menjadi sensasi asyik dalam keseriusan tersebut.

Setelah turunan tersebut sampailah kami pada satu keramat terakhir yaitu keramat Cakrabuana yang berada tak jauh dari Tower listrik PLN yang kaki-kakinya membentang disisi kiri kanan jalur sehingga lebih menyerupai gapura atau gerbang masuk menuju jalur pendakian Gunung Ciremai, disitu kami istirahat selama satu batang rokok dan melanjutkan menuju jalan kampung beraspal yang berjarak sekitar 300 meteran lagi.

Petualangan seru hari itu kami sudahi dengan nongkrong di depan gerbang obyek wisata Linggarjati untuk mengobati haus dan cuci mata sampai sebersih-bersihnya… :matalove disitu pula kami melihat serombongan trail yang juga baru saja turun dari petualangannya, pastinya jalur lain yang mereka lalui, karena memang banyak terdapat pilihan jalur di lereng Ciremai.

#137

Untuk mengalami sesuatu yang luar biasa!
Maka pergilah ketempat yang tidak biasa
Dengan cara biasa

Facebook
PRchecker.info